BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Berbicara
tentang akhlak, dalam Islam bukanlah sekedar teori kering yang jauh dari
kenyataan di lapangan. Akhlak Islam merupakan akhlak yang bisa dipraktekkan
dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana halnya Rasulullah dan para sahabatnya
memberikan teladan kepada kita. Tidak sedikit orang-orang kafir yang masuk
Islam karena merasa kagum terhadap keindahan akhlak Islam. Jika manusia mau
mempelajari akhlak Nabu Saw., maka mereka akan mendapat bimbingan dalam
mengarungi kehidupan di dunia ini serta tidak akan memperoleh banyak musuh
dalam kehidupan.
Keluhuran akhlak
Nabi Saw. telah diakui sendiri oleh Allah Swt. dalam Al-Qur'an, dan juga oleh
pengakuan orang-orang kafir sekalipun, baik di masa silam ataupun para
orientalis pada masa sekarang ini. Lalu bagaimana sebenarnya akhlak itu?
Sedikit menjawab pertanyaan tersebut, makalah ini akan menghantarkan kita
kepada petunjuk atau keterangan mengenai akhlak baik dan buruk menurut Islam,
selain itu juga akan dibahas beberapa indikator akhlak baik dan buruk dari
pandangan filsafat, ilmu, dan budaya.
B. Rumusan
Masalah
1.
Mengingat kembali pengertian akhlak
2.
Akhlak baik dan buruk menurut agama
3.
Indikator akhlak terpuji dalam filsafat
4.
Indikator akhlak baik dan buruk dalam
ilmu
5.
Indikator akhlak baik dan buruh dalam
sosial dan budaya
C. Tujuan
1.
Memahami
pengertian
akhlak
2.
Mengetahui
dan memahami akhlak baik dan buruk menurut agama
3.
Mengetahui
indikator
akhlak terpuji dalam filsafat
4.
Memahami
indikator
akhlak baik dan buruk dalam ilmu
5.
Memahami
dan mengetahui indikator akhlak baik dan buruh dalam
sosial dan budaya
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Mengingat
Kembali Pengertian Akhlak
Menurut istilah
bahasa perkataan akhlak berasal dari bahasa Arab yang berarti budi pekerti,
tingkah laku, perangan dan tabiat. Akhlak juga dapat dipahami sebagai prinsip
dan landasam atau metode yang ditentukan oleh wahyu untuk mengatur seluruh
perilaku hubungan antara seseorang dengan orang lain sehingga tujuan
kewujudannya di dunia dapat dicapai dengan sempurna.[1]
Berikut definisi
akhlak menurut istilah yang diutarakan beberapa ahli:
1. Menurut
Miqdad Yaljan: Akhlak adalah setiap tingkah laku yang mulia, yang dilakukan
oleh manusia dengan kemauan yang mulia dan untuk tujuan yang mulia pula.
2. Menurut
Ahmad bin Modh Salleh: Akhlak bukanlah tindakam yang lahir (nyata), akan tetapi
meliputi pemikiran , perasaan, dan niat baik secara individu maupun kelompok
masyarakat.
3. Menurut
Al-Ghazali: Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan
perbuatan-perbuatan dengan mudah dilakukan tanpa perlu kepada pemikiran dan
pertimbangan.
4. Akhlak
diartikan sebagai sikap yang melahirkan perbuatan. Namun ada juga pengertian
akhlak itu ditujukan pada budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat.
5.
Akhlak adalah: sifat yang tertanam dalam
jiwa, yang dengannya lahirlah bermacam-macam perbuatan atau tindakam baik atau
jahat, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Jadi secara umum
makna akhlak secara istilah merupakan tata cara pergaulan atau bagaimana
seseorang hamba berhubungan dengan Allah sebagai Khaliknya, dan bagaimana
seorang hamba bergaul dengan sesame manusia lainnya. [2]
B.
Baik
dan Buruk Menurut Ajaran Islam
Ajaran Islam
adalah ajaran yang bersumber kan wahyu Allah SWT, Al-Qur'an yang dalam
penjabarannya dilakukan oleh hadis Nabi Muhammad SAW. Masalah akhlak dalam
ajaran Islam sangat mendapatkan perhatian yang begitu besar sebagaimana yang
telah diuraikan pada bagian terdahulu.[3]
Menurut ajaran
Islam penentuan baik dan buruk harus didasarkan pada petunjuk Al-Qur'an dan al-Hadist.
Jika kita perhatikan Al-Qur'an maupun hadis dapat dijumpai berbagai istilah
yang mengacu kepada baik, dan ada pula istilah yang mengacu kepada yang buruk.
Diantara istilah yang mengacu kepada yang baik misalnya al-hasanah,
thayyibah, khairah, karimah, mahmudah, azizah, dan al-birr.[4]
Adanya berbagai
istilah kebaikan yang demikian variatif yang diberikan Al-Qur'an dan hadis itu
menunjukkan bahwa penjelasan tentang sesuatu yang baik menurut ajaran Islam
jauh lebih lengkap dan komprehensif dibandingkan dengan arti kebaikan yang
dikemukakan sebelumnya. berbagai istilah yang mengacu kepada kebaikan itu
menunjukkan bahwa kebaikan dalam pandangan Islam meliputi kebaikan yang
bermanfaat bagi fisik, akal, rohani, jiwa, kesejahteraan, di dunia dan kesejahteraan
di akhirat serta akhlak yang mulia.[5]
Untuk
menghasilkan kebaikan yang demikian itu Islam memberikan tolak ukur yang jelas,
yaitu selama perbuatan yang dilakukan itu ditunjukkan untuk mendapatkan
keridhaan Allah yang dalam pelaksanaannya Dilakukan dengan ikhlas. perbuatan
akhlak dalam Islam baru dikatakan baik apabila perbuatan yang dilakukan dengan
sebenarnya dan dengan kehendak sendiri itu dilakukan atas dasar ikhlas karena
Allah. Untuk itu peranan niat yang ikhlas sangat penting. Allah berfirman:
وما امرواالاليعبدواالله مخلصين له الدين. . .
Padahal mereka tidak disuruh
kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya
(menjalankan) agama yang lurus. (Q.S Al-Bayyinah [98]: 5).
Dalam hadis juga dinyatakan,
انما الاعمال
بالنيات و إنما لكل امرءما نوى (رواه البخاري و مسلم)
"sesungguhnya segala amal
perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan Sesungguhnya setiap orang akan
mendapatkan apa yang diniatkan." (H.R Bukhari-Muslim).
Berdasarkan
petunjuk tersebut, maka penentuan baik atau buruk dalam Islam tidak semata-mata
ditentukan berdasarkan amal perbuatan yang nyata saja, tetapi lebih dari itu
adalah niatnya. Hal yang dinyatakan oleh Ahmad Amin dengan mengatakan bahwa
hukum akhlak ialah memberi nilai suatu perbuatan bahwa ia baik atau buruk
menurut niatnya.[6]
Selanjutnya
dalam menentukan perbuatan yang baik dan buruk itu, Islam memperhatikan
kriteria lainnya yaitu dari segi cara melakukan perbuatan itu. Seseorang yang
berniat baik, tapi dalam melakukannya menempuh cara yang salah, maka perbuatan
tersebut dipandang tercela. orang tua yang memukul anaknya hingga cacat seumur
hidup tetap dinilai buruk, sungguh pun niatnya agar anak tersebut menjadi baik.
Demikian pula seseorang yang mengeluarkan sedekah dia dianggap baik menurut
agama, tetapi jika cara memberikan sedekah tersebut dapat menyakiti hati si
penerima, maka perbuatan tersebut dinilai tidak baik.[7] Allah
berfirman:
قَوْلٌ مَعْرُوْفٌوَمَغْفِرَةٌ
خَيْرٌمّنْ صَد َقَةٍيَتْب َعُهَاأدَى ، والله غني حَلِيْمٌ (٢٦٣)
Perkataan yang baik dan pemberian
Maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan
(perasaan si penerima). Allah Maha Kaya Lagi Maha Penyantun. (Q.S Al-Baqarah [2]:
263).
C.
Indikator
Akhlak Terpuji dalam Filsafat
Menurut
Al-Ghazali berakhlak mulia atau terpuji artinya "menghilangkan semua adat
kebiasaan yang tercela yang sudah digariskan dalam agama Islam dan menjauhkan
diri dari perbuatan tercela tersebut, kemudian membiasakan adat kebiasaan yang
baik, melakukannya dan mencintainya."[8]
akhlak yang
terpuji berarti sifat sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma
atau ajaran Islam.
Akhlak yang terpuji terbagi menjadi
dua bagian:
1. Akhlak
lahir: berarti melakukan seluruh amal ibadah yang diwajibkan Tuhan, termasuk
berbuat baik kepada sesama manusia dan lingkungan, dan dikerjakan oleh anggota
lahir.
2.
Akhlak batin: adalah segala sifat yang
baik, yang terpuji yang dilakukan oleh anggota batin (hati).[9]
Aliran hedonisme
adalah aliran filsafat yang terhitung tua, karena berakar pada pemikiran
filsafat Yunani, khususnya pemikiran filsafat Epicurus (341-270 SM), yang
selanjutnya dikembangkan oleh Cyrenics sebagaimana telah diuraikan diatas, dan
belakang ditumbuh kembangkan oleh Freud.[10]
Menurut paham
ini banyak yang disebut perbuatan yang baik adalah perbuatan yang banyak
mendatangkan kelezatan, kenikmatan dan kepuasan nafsu biologis. aliran ini
tidak mengatakan bahwa semua perbuatan mengandung kelezatan, selain kan ada
pula yang mendatangkan kepedihan, dan apabila ia disuruh memilih manakah
perbuatan yang harus dilakukan, maka yang dilakukan adalah yang mendatangkan
kelezatan. Epicurus sebagai peletak dasar paham ini mengatakan bahwa
kebahagiaan atau kelezatan itu adalah tujuan manusia. Tidak ada kebaikan dalam
hidup selain kejahatan dan tidak ada keburukan kecuali penderitaan. dan akhlak
itu tak lain dan tak bukan adalah berbuat untuk menghasilkan kesehatan dan
kebahagiaan serta keutamaan. keutamaan itu tidak mempunyai nilai tersendiri,
tetapi nilainya terletak pada kelezatan yang menyertainya.[11]
D.
Indikator
Akhlak Baik dalam Ilmu
lmu bukan sekedar pengetahuan
(knowledge), tetapi merupakan rangkuman dari sekumpulan pengetahuan berdasarkan
teori-teori yang disepakati / berlaku umum dan diperoleh melalui serangkaian
prosedur sistematik, diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang
ilmu tertentu.
Mengenai akhlak, banyak buku-buku
atau literatur ilmiah yang membahas secara gamblang hal tersebut, mulai dari bagaimana
cara berakhlak mulia, berakhlak terhadap Allah, akhlak terhadap Rasul, akhlak
terhadap orang tua, dan lain-lain. Salah satu buku yang dapat dijadikan
referensi adalah 'Manajemen Akhlak Salaf', yang diterjemahkan dari 4 kutaib
(kitab kecil) silsilah akhlak Rasul karya Syaikh Abu Amar Mahmud Al-Mishri yang
masing-masing berjudul: Al-Muraqabah, Al-Amanah, At-Tawadhu, dan Al-Haya.
Ada beberapa
indikator atau keterangan yang dapat diambil sebagai petunjuk bagaimana akhlak
baik tersebut, diantaranya:
1. Muraqabah,
yaitu keadaan seorang hamba yang senantiasa mengetahui dan meyakinkan
pengawasan Allah SWT terhadap lahir dan batinnya. Ibrahim Al-Khawwash berkata
"Muraqabah adalah kemurnian batin dan lahir karena Allah."
2. Amanah, amanah adalah akhlak para Rasul yang
paling tampak, Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu'aib sebagaimana disebut
oleh Allah dalam surat Asy-Syura ayat 107, "Sesungguhnya aku ini adalah
seorang rasul yang memegang amanah (yang diutus) kepada kalian!". Amanah
merupakan sesuatu yang dipercayakan kepada kita semua berbentuk beban syariat.
3. Tawadhu,
merupakan sifat rendah hati. Nabi Muhammad telah menganjurkan umatnya untuk
tawadhu demi tersebarnya spirit cinta, saling kasih, dan rasa sayang di antara
unat Islam. Baliau pernah bersabda "Sesungguhnya Allah mewahyukan
kepadaku, hendaklah kalian bertawadhu sehingga seseorang tidak merasa bangga
atas orang lain dan tidak berbuat lalim kepada orang lain.
4.
Malu, salah satu akhlak teragung yang
seyogianya setiap muslim menghiasi diri dengannya. Malu merupakan rasa tidak
enak hati ketika ingin melakukan sesuatu apapun yang berpotensi terjadi
kesalahan atau yang lainnya. Zaid bin Thalhah meriwayatkan bahwa Rasulullah
pernah bersabda, "Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak
Islam adalah malu."[12]
Dengan begitu
sudah jelas bahwa indikator dari akhlak buruk adalah kebalikan dari akhlak yang
telah disebutkan di atas seperti:
1. Tidak
merasa takut ketika melakukan keburukan, karena merasa Allah tidak
memperhatikan setiap langkahnya;
2. Tidak
amanah;
3. Sombong;
4. Tidak
mempunyai rasa malu, dll.
E.
Indikator
Akhlak Baik dan Buruk Perspektif Budaya
Akhlak baik dan
buruk ditentukan berdasarkan adat istiadat yang berlaku dan dipegang teguh oleh
masyarakat. Orang yang mengikuti dan berpegang teguh pada adat dipandang baik,
dan orang yang menantang dan tidak mengikuti adat istiadat dipandang buruk, dan
kalau perlu dihukum secara adat.[13]
Adat istiadat
selanjutnya disebut pula sebagai pendapat umum. Ahmad Amin mengatakan bahwa
tiap-tiap bangsa mempunyai adat istiadat yang tercantik dan menganggap baik
bila mengikutinya, mendidik anak-anaknya sesuai dengan adat istiadat itu, dan
menanamkan perasaan kepada mereka, bahwa adat istiadat itu akan membawa kepada
kesucian, sehingga apabila seseorang menyalahi adat istiadat itu sangat dicela
dan dianggap keluar dari golongan bangsanya.
Di dalam masyarakat kita jumpai
adat istiadat yang berkenaan dengan cara berpakaian, makan, minum,
bercakap-cakap, bertandang dan sebagainya. orang yang mengikuti cara-cara
demikian itulah yang dianggap orang yang baik, dan orang yang menyalahi nya
adalah orang yang buruk.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berbicara tentang akhlak, dalam
Islam bukanlah sekedar teori kering yang jauh dari kenyataan di lapangan.
Akhlak Islam merupakan akhlak yang bisa dipraktekkan dalam kehidupan
sehari-hari, sebagaimana halnya Rasulullah dan para sahabatnya memberikan
teladan kepada kita.
Akhlak merupakan
tata cara pergaulan atau bagaimana seseorang hamba berhubungan dengan Allah
sebagai Khaliknya, dan bagaimana seorang hamba bergaul dengan sesama manusia
lainnya. Menurut ajaran Islam penentuan baik dan buruk harus didasarkan pada
petunjuk Al-Qur'an dan al-Hadist.
Sedangkan
menurut paham filsafat, yang disebut perbuatan yang baik adalah perbuatan yang
banyak mendatangkan kelezatan, kenikmatan dan kepuasan nafsu biologis. Dalam
buku yang ditulis oleh Mahmud Al-Mishri, ada beberapa indikator akhlak baik
diantaranya Muraqabah, Amanah, Tawadhu, dan Malu.
Akhlak baik dan
buruk ditentukan berdasarkan adat istiadat yang berlaku dan dipegang teguh oleh
masyarakat. Orang yang mengikuti dan berpegang teguh pada adat dipandang baik,
dan orang yang menantang dan tidak mengikuti adat istiadat dipandang buruk, dan
kalau perlu dihukum secara adat.
B. Kritik
dan Saran
Pembuatan
makalah ini
tentu masih kurang sempurna, atas keterbatasan kami sebagai mahasiswa dalam
tata cara penyusunan atau kandungan materi di dalamnya dan juga adanya kekurangan mengenai jumlah referensi
yang diharapkan.
Untuk itu perlu adanya koreksi positif dari dosen pengampu untuk
perbaikan. Dengan begitu semoga makalah ini dapat berguna turut mengisi esensi
dari tujuan pembelajaran mata kuliah
'Akhlak Tasawuf'.
Daftar Pustaka
Abdurrahman,
Muhammad. 2016. ‘Menjadi Seorang Muslim Berakhlak
Mulia’. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Al-Mishri, Mahmud. 2007. ‘Manajemen Akhlak Salaf’. Surakarta: CV Arafah Group, 2007.
Nata, Abu ddin.
2014. Akhlak Tasawuf. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Bisri. 2009. Akhlak. Jakarta Pusat: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia.
[1]
Muhammad Abdurrahman, ‘Menjadi
Seorang Muslim Berakhlak Mulia’ (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016), hlm.6.
[2]
Ibid., hlm.8.
[3] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf
dan Karakter Mulia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), Cet. XIV, hlm.100.
[6] Ibid., hlm.104.
[7] Ibid., hlm.105.
[8] Bisri, M. Fil. I, Akhlak, (Jakarta
Pusat: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik
Indonesia, 2009). Cet. I, hlm.3.
[9] Ibid., hlm.3.
[12]
Mahmud Al-Mishri, ‘Manajemen Akhlak Salaf’, (Surakarta: CV Arafah Group,
2007), hlm.174.
Comments
Post a Comment